Menggabungkan DNS Filtering dan Machine Learning untuk Memblokir Situs Judi Online
2023: 3,7 juta orang. 2024: 9,7 juta orang. 2025: 12,3 juta orang.
Itu jumlah orang di Indonesia yang tercatat PPATK melakukan deposit judi online, naik tiga tahun berturut-turut, tanpa jeda sekali pun (Kompas, Januari 2024; PPATK, Januari 2026).
PPATK belum merilis angka jumlah orang secara resmi untuk 2026 waktu tulisan ini saya buat. Tapi kalau saya tarik garis sederhana dari polanya, dari 3,7 juta ke 9,7 juta ke 12,3 juta, angka 2026 kemungkinan besar sudah berada di kisaran 15 juta orang. Ini bukan angka resmi, cuma perkiraan kasar saya sendiri menarik tren.
Yang sudah dirilis PPATK justru angka lain, dan tahun ini kebetulan bertepatan dengan Piala Dunia 2026. Sepanjang Januari sampai Juni 2026 saja, perputaran dana judi online tercatat Rp86,82 triliun dari 467,32 juta transaksi. Lalu begitu turnamen dimulai, angkanya melonjak lebih tajam lagi: dalam rentang pertengahan Juni sampai Juli 2026 saja, PPATK mengidentifikasi deposit senilai Rp1,02 triliun dari 6.001.352 transaksi yang terkait langsung dengan Piala Dunia, sampai membuat mereka menghentikan sementara transaksi pada 2.815 rekening dengan total saldo Rp325,43 miliar (PPATK, Agustus 2026). Enam juta transaksi deposit, dalam waktu kurang lebih sebulan, mengikuti satu turnamen sepak bola. Bukan proyeksi, bukan perkiraan tren. Sudah terjadi, dan sudah tercatat.
Tapi dari semua angka yang sudah tercatat itu, ada satu yang lebih sulit saya lewati begitu saja. Sepanjang 2025, PPATK menyampaikan temuan sekitar 103,1 ribu anak dan remaja yang terhubung dengan transaksi judi online, dan puluhan ribu di antaranya berusia di bawah 11 tahun (CNN Indonesia, Juli 2026). PPATK sendiri menegaskan bahwa pemain judi online secara umum masih didominasi usia produktif, jadi angka ini bukan berarti anak-anak jadi mayoritas. Tapi buat saya, satu anak di bawah 11 tahun itu saja sudah cukup bikin saya berhenti sejenak, jauh lebih lama dari angka-angka besar sebelumnya.
Saya tidak akan mencoba mendramatisasi angka-angka itu lebih jauh dari yang sudah dirilis PPATK sendiri. Yang saya tahu cuma satu: di antara dua belas koma tiga juta orang itu, ada beberapa wajah yang saya kenal. Dan itu terlalu dekat untuk saya abaikan.
Dan dari situ, satu pertanyaan terus muncul di kepala saya:
Apa yang sudah pemerintah lakukan untuk mengatasi ini?
Sistem yang sudah berjalan sekarang
Saya mulai mencari, dan begini yang saya temukan.
Intinya ada satu database besar bernama TrustPositif, dikelola Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berisi daftar situs dan konten yang dianggap negatif, termasuk judi online. Setiap penyedia layanan internet di Indonesia, baik operator seluler seperti Telkomsel dan Indosat, maupun penyedia WiFi rumahan seperti IndiHome dan Biznet, wajib mengintegrasikan daftar itu ke server DNS mereka, biasanya lewat mekanisme bernama Response Policy Zone. Begitu seseorang mengetik domain yang ada di daftar TrustPositif, DNS ISP tidak memberi alamat aslinya, melainkan mengarahkan ke halaman blokir yang kita kenal sekarang sebagai Internet Positif.
Daftarnya sendiri bisa dicek siapa saja lewat trustpositif.komdigi.go.id, dan saya sempat cek sendiri saat tulisan ini dibuat: ada 9.588.988 domain yang tercatat diblokir.
Melihat angka sebesar itu, satu pertanyaan muncul di kepala saya: bagaimana caranya sembilan setengah juta domain itu bisa ditemukan dan berakhir di daftar itu?
Jawabannya ada di sebuah ruangan bernama Cyber Drone 9, tempat sebuah mesin bernama AIS beroperasi sejak 3 Januari 2018. Pengadaannya menelan biaya sekitar Rp194 miliar, dikerjakan oleh PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), dan dioperasikan oleh sebuah tim yang bekerja bergiliran tiga shift, nyaris tanpa henti sepanjang hari.
Cara kerjanya sederhana secara konsep: masukkan kata kunci tertentu, mesin ini akan merayapi internet dan dalam waktu 5 sampai 10 menit menemukan situs atau akun yang cocok. Operatornya bisa saja mengetik sesuatu sesederhana "slot gacor" atau "situs togel terpercaya", dan mesin akan mengembalikan daftar domain serta akun media sosial yang memuat kata-kata itu, siap untuk ditindaklanjuti. Di sampingnya, ada tim manusia yang berpatroli 24 jam mencari anomali yang lolos dari mesin, dan ada jalur laporan masyarakat lewat aduankonten.id untuk domain yang ditemukan orang biasa. Jadi ada tiga jalur masuknya kandidat: dari mesin, dari patroli, dari laporan.
Tapi ditemukan bukan berarti langsung diblokir. Setiap kandidat, baik hasil crawling mesin, temuan patroli, maupun laporan dari aduankonten.id, masih harus melewati satu tahap lagi: tim di Cyber Drone 9 memeriksa konteksnya secara manual, memastikan domain itu memang berisi konten judi online dan bukan salah tangkap, sebelum akhirnya dimasukkan ke database TrustPositif. Begitu masuk, daftar itu didistribusikan ke seluruh ISP, dan barulah domain itu benar-benar berhenti bisa diakses lewat DNS mereka.
Sementara proses itu berjalan, domain baru terus lahir. Kominfo sendiri pernah menyebut angkanya: 15.000 sampai 20.000 situs atau aplikasi judi online baru muncul setiap hari (detik, Agustus 2024).
Sekarang bandingkan dengan kecepatan pemblokirannya, khusus situs web saja. Dari data penindakan Komdigi, sekitar 88 persen kontennya memang berupa situs web dan alamat IP, sisanya dari platform seperti Meta, TikTok, dan YouTube (GarudaInfo, Maret 2026). Dari rata-rata 126.000 konten yang ditangani sebulan, itu berarti sekitar 3.700 situs web per hari. Di hari yang paling baik sekalipun, yang berhasil ditindak hanya seperlima sampai seperempat dari yang baru lahir hari itu juga. Sisanya menumpuk, menunggu giliran, atau lolos begitu saja.
Jadi kalau saya kembali ke pertanyaan awal tadi, apa yang sudah pemerintah lakukan, jawabannya bukan "tidak ada". Mesin seharga ratusan miliar, tim tiga shift 24 jam, proses verifikasi berlapis, semua itu sudah ada dan sudah berjalan. Yang tidak ada cuma satu: kecepatan yang cukup untuk mengejar apa yang lahir setiap hari, karena setiap kandidat masih harus lewat verifikasi manual sebelum resmi diblokir.
Dari situ saya coba mundur selangkah, dan mencoba memetakan bukan cuma apa yang sudah dikerjakan, tapi di mana persisnya semua itu bekerja. Bisnis judi online ini sebenarnya bisa dibayangkan sebagai enam lapisan yang bersusun, dari lapisan luar yang terlihat pengguna sampai lapisan dalam yang jadi otak operasinya:
- Pemain, orang dan perangkat yang dipakainya. Ini pihak yang seharusnya dilindungi, bukan dilawan.
- Nama domain, alamat yang diketik atau diklik. Murah dibuat, murah diganti.
- Perantara atau CDN, layanan seperti Cloudflare yang menyembunyikan alamat server aslinya di balik satu lapisan proxy.
- Server inti, mesin sebenarnya yang menjalankan situs itu, hampir selalu berada di luar negeri.
- Aliran dana, rekening bank, e-wallet, QRIS, sampai kripto. Nyawa dari seluruh bisnisnya.
- Bandar dan operator, manusia di baliknya, otak sesungguhnya dari seluruh operasi, lengkap dengan jaringan afiliasi dan pemasarannya.
Kalau saya letakkan TrustPositif, mesin AIS, dan ribuan situs yang ditindak setiap hari tadi ke enam lapisan ini, semuanya menumpuk di satu titik saja: lapisan kedua, nama domain.
Ada alasan yang cukup masuk akal kenapa titik itu yang paling sering disentuh: domain adalah bagian yang paling terlihat, dan paling berada di dalam yurisdiksi Indonesia. Negara punya kendali langsung atas DNS ISP dalam negeri. Tapi negara tidak punya kendali yang sama atas Cloudflare yang berkantor di luar negeri, atau server yang disewa di negara lain, atau bandar yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Domain itu satu-satunya lapisan yang bisa langsung disentuh dari dalam negeri tanpa perlu kerja sama lintas negara.
Ironisnya, itu juga lapisan yang paling murah dipulihkan pelaku. Harga domain sendiri bisa di atas sepuluh ribu rupiah saja, dan dari beli, pasang, sampai lolos masa probation-nya, semua bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Domain diblokir, tinggal beli domain baru, sering kali dalam hitungan menit. Dan sekarang, dengan jaringan judi online yang diduga mulai memakai otomatisasi berbasis AI untuk mendeteksi domainnya sendiri kena blokir lalu langsung membuatkan domain atau subdomain pengganti, jendela waktunya kemungkinan bisa lebih pendek lagi.
Ini mengingatkan saya pada sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan judi online: perang drone antara Iran dan musuh-musuhnya. Satu drone Iran, yang harganya mungkin cuma beberapa ribu dolar, kadang cuma bisa dijatuhkan pakai rudal seharga jutaan dolar. Yang menyerang murah. Yang bertahan mahal. Dan selama biayanya timpang seperti itu, pihak yang menyerang bisa terus mengirim drone baru lebih cepat daripada pihak yang bertahan sanggup membeli rudal baru.
Domain kerja dengan logika yang sama. Satu domain seharga sepuluh ribu rupiah dilawan oleh sistem seharga ratusan miliar, tim kerja tiga shift, dan proses verifikasi berlapis. Selama biayanya sama-sama timpang, domain baru akan selalu bisa dikirim lebih cepat daripada sistem mana pun sanggup memeriksanya satu per satu.
Yang menarik, baru belakangan ini saya melihat pergeseran ke lapisan kelima, aliran dana. Bersama OJK, Bank Indonesia, dan aparat penegak hukum, sekitar 32.500 rekening bank terkait judi online sudah ditutup. Kementerian Sosial menangguhkan penyaluran bantuan sosial Program Sembako kepada 1.494.652 keluarga penerima manfaat yang terindikasi bertransaksi judi online, naik dari sekitar 600 ribu keluarga pada pemadanan tahun sebelumnya (ANTARA, Agustus 2026). Deposit lewat QRIS sendiri mencapai 56 persen dari total nominal deposit judi online sepanjang Semester I 2026, dan 87,66 persen dari seluruh frekuensi transaksi deposit, sampai membuat Bank Indonesia dan OJK ikut turun tangan (PPATK, Agustus 2026). Semua itu tanda bahwa fokusnya mulai bergeser dari sekadar menutup pintu depan, ke mencoba memutus jalur uangnya. Menteri Komdigi sendiri pernah bilang, pemberantasan judi online tidak cukup kalau berhenti di pemutusan akses situs saja (Siaran Pers Kemkomdigi, Juli 2026).
Saya membaca pergeseran ini sebagai kabar baik, tapi juga sebagai konfirmasi. Kalau lapisan kedua saja butuh bertahun-tahun sebelum negara mulai serius menyasar lapisan kelima, itu artinya lapisan kedua memang lapisan yang paling gampang dikerjakan, bukan yang paling menentukan. Dan justru di lapisan yang paling gampang itulah, jendela antara domain muncul dan domain tercatat, penelitian saya berdiri.
Pertanyaan yang tertinggal di kepala saya setelah memahami semua ini bukan "kenapa pemerintah tidak becus". Pertanyaannya lebih sempit: bisakah domain baru dikenali secara otomatis, cukup cepat untuk mengejar kecepatan kelahirannya, tanpa menunggu satu pun manusia memverifikasinya lebih dulu?
Cara berpikir yang berbeda
Ada satu fakta sederhana soal DNS yang justru jadi titik tolak cara berpikir saya: semua penyedia internet menerapkannya, tanpa kecuali. Mau situs judol menyamar serapi apa pun, mau server aslinya disembunyikan di balik Cloudflare, mau domainnya baru dibuat semenit yang lalu, tetap ada satu langkah yang tidak bisa dilewati: seseorang harus mengetik atau mengklik domain itu, dan permintaan itu pasti lewat DNS.
Dari fakta itu muncul pertanyaan yang menurut saya lebih penting daripada "bagaimana mencari situs judol lebih cepat": kenapa harus mencari sama sekali? Kalau semua orang pasti lewat pintu yang sama, kenapa tidak tunggu saja di pintu itu?
Ini yang membedakan cara berpikir saya dari mesin AIS. Mesin itu harus mencari: dikasih kata kunci, dilepas ke internet, berharap menemukan sesuatu sebelum situsnya sempat memakan korban. Kerja berat, karena internet jauh lebih luas daripada mesin apa pun yang menyisirnya. Sistem yang saya buat tidak perlu mencari sama sekali. Cukup diam di satu tempat, di jalur DNS itu sendiri, dan menunggu.
Dan begitu ada yang lewat, itu sendiri sudah jadi petunjuk. Orang yang mencoba membuka domain baru, tanpa dia sadar dan tanpa dia berniat, sudah jadi pelapor pertama. Tidak ada formulir aduan. Tidak ada tim yang harus menemukannya duluan di antara miliaran halaman lain. Cukup satu permintaan, dan sistem langsung tahu ada yang perlu diperiksa.
Ini juga menutup satu celah yang tidak bisa dijangkau mesin AIS. Mesin itu cuma bisa melihat apa yang muncul di permukaan, halaman web dan akun media sosial yang bisa dirayapi. Ia tidak bisa masuk ke grup WhatsApp, Telegram, atau kanal privat lain, tempat link judol sering disebar dari orang ke orang. Sistem saya tidak peduli soal itu. Saya tidak perlu tahu dari mana seseorang mendapatkan link itu, entah dari Google, dari grup WhatsApp, atau dari teman yang iseng membagikannya. Begitu link itu diklik dan permintaannya lewat jaringan yang saya kendalikan, sistem tetap menangkapnya.
Itulah bedanya cara kerja keduanya. AIS proaktif, dia jemput bola. Sistem saya reaktif, cuma bergerak kalau ada yang datang. Bedanya seperti satpam yang harus keliling seluruh kompleks tiap malam mencari orang mencurigakan, dibanding satpam yang berdiri diam di pos, cukup memeriksa siapa saja yang lewat pintu gerbang.
Konsekuensinya juga kena ke biaya. Mesin yang harus menyisir seluruh internet itu harus terus menyala, mau ada yang mengakses temuannya atau tidak. Sistem yang cuma menunggu di gerbang hanya bekerja sebanyak yang benar-benar lewat. Tidak ada usaha yang terbuang untuk domain yang memang tidak pernah diakses siapa pun di jaringan itu.
Yang saya bangun
Dari cara berpikir itu, saya susun sistem yang saya beri nama Anti Judol System, disingkat AJS. Bukan lagi rancangan di atas kertas. Saya sudah menerapkannya di jaringan lokal saya sendiri, dan idenya benar-benar jalan.
Intinya adalah sebuah server DNS kecil, yang saya jalankan di jaringan yang saya kendalikan sendiri. Setiap kali ada permintaan domain, ia diperiksa lewat tiga daftar: whitelist untuk domain yang sudah dipercaya, blacklist untuk domain yang sudah dikenali bermasalah, dan satu daftar ketiga yang tidak dimiliki TrustPositif, yaitu processlist, tempat domain-domain yang belum pernah dikenali menunggu giliran diperiksa.
Begitu ada domain baru yang belum pernah tercatat di whitelist maupun blacklist, sistem tidak langsung memutuskan apa pun. Ia mencatatnya ke processlist, lalu tetap membiarkan permintaan itu lewat. Ini pilihan sadar, bukan kelalaian, dan alasannya ada dua. Pertama, saya lebih memilih domain baru sempat lolos sesaat, daripada mematikan akses ke situs yang ternyata sama sekali tidak berbahaya. Kedua, kalau permintaan DNS ditahan dulu sampai capture dan pemeriksaan selesai, pengguna akan merasakan jeda setiap kali membuka domain baru, dan itu mengorbankan kenyamanan yang seharusnya tidak perlu dikorbankan. Di belakang layar, ada sebuah proses yang saya sebut worker, berjalan terus menerus, mengambil satu per satu domain yang menunggu gilirannya diperiksa di processlist itu.
Untuk setiap domain yang diambil, worker sebenarnya melakukan persis apa yang saya lakukan kalau mau mengecek sebuah situs secara manual: membukanya lewat peramban, menunggu halamannya selesai dimuat, lalu melihat isinya. Bedanya, ini dilakukan oleh peramban yang jalan sendiri di belakang layar, tanpa perlu ditampilkan ke layar sama sekali, dikendalikan lewat kode, bukan lewat klik tangan saya.
Worker mengambil tangkapan layarnya, lalu membaca teks di halaman itu, baik dari kode HTML-nya maupun, kalau teksnya sengaja disembunyikan di dalam gambar, lewat pengenalan karakter optik pada tangkapan layar tadi. Ini penting, karena situs judi online sering menaruh kata-kata mencurigakannya di dalam gambar, tepat untuk menghindari mesin pencari yang hanya membaca teks mentah.
Teks yang terkumpul itu kemudian dinilai oleh sebuah model klasifikasi sederhana, dilatih untuk mengenali pola kata yang biasa muncul di situs semacam ini: istilah taruhan, slot, dan sejenisnya. Kalau model menilai domain itu situs judi online, ia langsung masuk blacklist. Kalau tidak, ia masuk whitelist sementara. Semua permintaan berikutnya ke domain yang sama, dari siapa pun di jaringan itu, langsung mendapat keputusan tanpa harus menunggu proses ini berulang.
Ada satu jalur lagi yang sengaja saya sediakan: kalau tangkapan layarnya gagal diambil, atau model ragu tapi teksnya mengandung kata-kata yang mencurigakan, domain itu tidak langsung divonis. Ia disisihkan ke daftar untuk saya periksa sendiri secara manual. Bedanya dengan titik verifikasi manusia di sistem negara: jalur ini bukan pintu masuk normal yang dilewati semua domain, melainkan jalur pengecualian untuk kasus yang memang meragukan. Sebagian besar domain tidak pernah melewati tangan saya sama sekali.
Yang saya sadar sebagai batasnya
Saya ingin jujur di bagian ini, karena pendekatan teknologi paling berbahaya justru ketika keterbatasannya tidak dibicarakan.
Pertama, dan ini yang paling penting: sistem saya, sama seperti TrustPositif, cuma bermain di lapisan kedua, nama domain. Ia tidak menyentuh Cloudflare yang menyembunyikan alamat server aslinya. Ia tidak menyentuh server intinya, yang hampir selalu berada di luar negeri. Ia tidak menyentuh aliran dananya, atau bandar di baliknya. Saya sengaja tidak mencoba "mengakali" Cloudflare, karena itu bukan lagi wilayah yang bisa saya jangkau dengan laptop dan waktu yang saya punya, dan karena itu bukan pertanyaan yang ingin saya jawab.
Kedua, ada jendela waktu di mana domain baru tetap bisa diakses sebelum sistem sempat memeriksanya. Ini konsekuensi langsung dari cara sistem ini bekerja, dan saya sudah jelaskan alasannya tadi. Konsekuensinya tetap harus saya akui: akses pertama ke sebuah domain baru selalu ada kemungkinan lolos sesaat.
Ketiga, model ini tidak sempurna, meskipun kesalahannya tidak simetris. Model ini saya latih dari 220 domain yang sudah saya beri label sendiri, 120 di antaranya judi online dan 100 sisanya bukan. Untuk mengujinya, saya sengaja tidak memakai domain yang sama dengan yang dipakai latihan, supaya hasilnya benar-benar mencerminkan bagaimana model bersikap terhadap domain yang belum pernah ia lihat sama sekali.
Dari pengujian itu, model belum pernah salah menandai situs yang sebenarnya aman sebagai judi online. Yang justru terjadi adalah arah sebaliknya: ada situs judi online yang lolos, dinilai model sebagai bukan judi. Bagi saya ini kabar yang setengah baik. Setengah baik karena berarti sistem ini tidak gegabah menutup akses ke situs yang tidak bersalah, sesuatu yang konsekuensinya nyata bagi pemilik situs dan penggunanya.
Tapi tetap bukan kabar yang bisa saya rayakan, karena situs yang lolos itu artinya seseorang masih bisa mengaksesnya tanpa terdeteksi, dan karena pola yang membuatnya lolos hari ini bisa saja dipelajari dan ditiru situs lain besok. Model ini juga perlu terus dilatih ulang seiring polanya berubah, atau ia akan berhenti relevan, persis seperti nasib daftar statis yang tadinya ingin saya hindari. Tapi "belum sempurna" itu bukan status permanen. Dengan data yang terus bertambah dan dilatih ulang secara berkala, saya percaya modelnya bisa terus membaik, bahkan kalaupun tidak akan pernah benar-benar sempurna.
Keempat, sistem ini hanya berguna di jaringan yang saya kendalikan sendiri. Siapa pun yang mengubah pengaturan DNS di perangkatnya, atau memakai protokol seperti DNS-over-HTTPS yang membungkus permintaan DNS di dalam lalu lintas terenkripsi, bisa keluar dari jangkauan sistem ini kapan saja. Ia bukan tembok. Ia cuma membuat jalan masuk tidak lagi terbuka secara default.
Jadi, apakah teknologi cukup?
Tidak.
Saya tulis jawaban itu apa adanya, tanpa embel-embel "tapi" atau "meskipun begitu", karena inilah satu-satunya bagian dari seluruh tulisan ini yang saya yakini penuh.
Sistem ini, sebaik apa pun ia bekerja, cuma menutup satu pintu, di satu jenis jaringan, pada satu dari enam lapisan yang ada. Ia tidak menyentuh alasan kenapa orang-orang yang saya kenal itu mencari pintu itu sejak awal. Ia tidak menyentuh apa pun yang membuat mereka balik lagi, dan balik lagi, sampai masuk hitungan 12,3 juta orang tadi. Ia tidak menyentuh aplikasi pinjaman online yang iklannya muncul begitu saja begitu uang habis.
Yang bisa menyentuh hal-hal itu justru lapisan yang jauh lebih sulit dibangun daripada perangkat lunak: kesadaran masyarakat, keluarga yang tahu apa yang sedang terjadi pada orang terdekatnya, dan kecanduan yang ditangani sebagai persoalan kesehatan, bukan sekadar pelanggaran hukum.
Saya bukan pembuat kebijakan, dan tidak pegang data nasional. Untuk sekarang saya cuma bisa menguji ini di jaringan lokal, batas yang masuk akal untuk sebuah skripsi.
Saya memang menulis "jaringan lokal" di proposal. Tapi bukan karena itu tujuan akhirnya. Saya menulisnya karena itu tempat paling masuk akal untuk membuktikan dulu bahwa idenya jalan, sebelum berani membayangkan lebih jauh. Kalau suatu hari sistem sekecil ini bisa dipercaya untuk bekerja di skala yang jauh lebih besar, di luar satu jaringan rumah, saya justru berharap begitu. Karena di baliknya ada orang-orang, entah berapa banyak, yang barangkali bisa terselamatkan, orang-orang yang buat saya bukan sekadar angka, karena beberapa di antaranya saya kenal wajahnya.
Yang saya punya sekarang cuma bisa baca dokumentasi, nulis kode, dan cukup sabar memahami sesuatu sebelum ikut bicara soal itu. Jadi itu yang saya kerjakan. Bukan karena saya berhenti di situ, tapi karena dari situlah saya harus mulai.
Setidaknya, itu lebih baik daripada cuma diam saja, membaca angka-angka itu, dan tidak melakukan apa-apa.
Sumber
Data dan pernyataan resmi yang dikutip dalam artikel ini, dengan prioritas pada sumber primer:
- PPATK — Perputaran Dana Judi Online Capai Rp 327 Triliun Sepanjang 2023 (Kompas, Januari 2024) — angka jumlah orang 2023
- PPATK — Catatan Capaian Strategis PPATK Tahun 2025 (siaran pers, Januari 2026) — angka jumlah orang 2024 dan 2025
- PPATK — Judi Online Membajak Piala Dunia 2026, Deposit Tembus Rp1 Triliun (siaran pers, Agustus 2026) — perputaran Semester I 2026, data Piala Dunia, komposisi deposit QRIS
- CNN Indonesia — PPATK Beber 103 Ribu Anak Remaja Terhubung Transaksi Judi Online (Juli 2026)
- TrustPositif — trustpositif.komdigi.go.id, dicek langsung untuk menghitung jumlah domain yang tercatat
- detik — Kominfo Sebut 15-20 Ribu Situs Judi Online Baru Muncul Setiap Hari (Agustus 2024)
- GarudaInfo — Kemkomdigi Tangani 7,9 Juta Konten Judi Online Sejak 2017 (Maret 2026) — breakdown situs web vs media sosial
- ANTARA — Kemensos Menangguhkan 1,49 Juta Penerima Bansos Terindikasi Judi Online (Agustus 2026)
- Kemkomdigi — siaran pers tentang pendekatan berbasis ekosistem (Juli 2026)
- kumparan — Menkominfo Pamer Cyber Drone 9, Tim dan Mesin Blokir Internet Indonesia — biaya pengadaan dan kontraktor mesin AIS
- VIVA — Mengenal Cyber Drone 9, Polisi Internet Indonesia — tanggal mulai beroperasi mesin AIS